Gowa,Sulsel
Jelajahindonesia.id - Embung Pertanian adalah bangunan yang berfungsi untuk menahan dan menampung aliran air yang bersumber dari mata air, curah hujan, sungai dan sumber air lainnya. Embung atau tendon air merupakan waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farm reservoir) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan.
Embung Pertanian Kanreapia menjadi cara petani KBA Kanreapia mengatasi kekeringan saat musim kemarau. Embung diperuntukan untuk menyediakan air ketika musim kemarau. Embung telah menjadi solusi untuk mengairi tanaman yang kering, sehingga membuat tanaman tidak mati karena kekurangan air. Embung Pertanian membawa pertanian Kanreapia selalu sukses dalam melakukan budidaya di musim kemarau, karena embung mampu menyediakan kebutuhan air bagi pertanian masyarakat Kanreapia.
![]() |
Embung mini merupakan bangunan konservasi air berbentuk kolam atau cekungan untuk menampung air limpasan serta sumber air lainnya untuk memenuhi berbagai kebutuhan air dengan volume tampungan 500 m3 sampai 3.000 m3, dan kedalaman dari dasar hingga puncak tanggul maksimal 3 m. Sama halnya petani desa Kanreapia memiliki ukuran embung yang bervariasi, biasanya disesuaikan dengan lahan masing – masing petani.
Embung Pertanian hadir sebagai aksi Mitigasi perubahan Iklim, dimana Desa Kanreapia telah menjadi Kampung Iklim Lestari pada tahun 2022. Fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini sangat dirasakan dalam pengembangan sektor pertanian, karena sektor pertanian merupakan sektor paling rentan (vulnerable) terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim menyebabkan pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan dimana durasinya menjadi lebih pendek dengan intensitas yang tinggi sehingga menyebabkan banjir, sedangkan musim kemarau yang berlangsung lebih lama menimbulkan bencana kekeringan, yang berdampak pada penurunan produktivitas, dan luas areal tanam.
Petani sebagai ujung tombak pelaksana pembangunan pertanian diharapkan mampu melaksanakan usahatani di tengah fenomena perubahan iklim yang terjadi seperti sekarang ini Salah satu upaya adaptasi perubahan iklim yang dilakukan adalah dengan pengembangan embung pertanian yang berfungsi untuk memanen air hujan dan aliran permukaan (rain fall and run off harvesting) terutama pada musim kemarau. Adaptasi perubahan iklim melalui Pengembangan Embung Pertanian merupakan upaya konservasi air yang tepat guna, murah dan spesifik lokasi, serta dapat mengatur ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan air (water demand) di tingkat usaha tani.
Dalam pembangunan embung pertanian, petani Kanreapia dalam melihat sisi fungsinya sebagai penambung air telah memenuhi komponen struktur embung antara lain: bangunan penampung (storage), pintu/ saluran pemasukan (inlet), pintu/saluran pengeluaran (outlet) dan pelimpas.
Petani Desa Kanreapia menamai embung sebagai Ceddang, mayoritas petani mengetahui bahwa penampungan air yang mereka buat adalah ceddam atau Ceddang.
Misalnya saat mereka berkomunikasi dengan sesama petani dengan mengucapkan :
‘’Mangeko muko ambaliia akkeke ceddang’’ artinya Bantu Saya Besok menggali embung
‘’Rassiji ere Ceddangia’’ Artinya : Apakah air embung sudah penuh
‘’Timae Ceddangnu’’ Artinya : Dimana Lokasi embung anda
Artinya sebelum istilah nama embung buming dan di terapkan di berbagai tempat di Indonesia ternyata petani Kanreapia telah menerapkan system penampungan air untuk pengairan pertanian meraka di saat musim kemarau datang, yang dikenal saat ini sebagai istilah embung.
Sekitar tahun 80an nama Ceddam di populerkan dan dirintis oleh Dg Solle, Tokoh perintis Kanreapia, Ceddam yang di bangun pada saat itu memiliki ukuran yang besar, untuk menampung air hujan, air sumber mata air dll, dengan tujuan, sebagai pengairan pertanian warga.






