Makassar, 2 Januari 2025 – Di tengah gencarnya sorotan terhadap pembangunan Pasar Lamataesso yang terletak di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kini muncul temuan baru yang memicu kritik tajam terhadap proyek yang didanai dengan pinjaman dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Pembangunan pasar senilai 23 miliar rupiah ini, yang diresmikan pada 12 Oktober 2023 oleh Bupati Soppeng, Andi Kaswadi Razak, ternyata tidak memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat, bahkan terkesan mangkrak dan tidak terawat.
Pasar Lamataesso, yang seharusnya menjadi pusat perekonomian modern dengan desain mirip mall, justru tidak berfungsi sesuai harapan. Lantai-lantai bangunan yang megah malah kosong, tanpa aktivitas perdagangan yang berarti. Lembaga Kajian dan Advokasi HAM Indonesia (LHI) mencatat bahwa bangunan tersebut hampir tidak terpelihara dengan baik. Banyak bagian fisik bangunan yang mulai rusak, dan lebih parahnya, sebagian area kini telah beralih fungsi menjadi tempat permainan sepak bola.
Ketua LHI, Mahmud Cambang, yang melakukan pemantauan langsung pada Minggu (25/8/2024) lalu, menyatakan keprihatinannya atas temuan tersebut. “Pasar Lamataesso ini sudah melenceng jauh dari tujuan awalnya. Alih-alih menjadi pusat ekonomi yang diharapkan, malah jadi lahan terlantar yang disalahgunakan,” ungkap Mahmud.
Mahmud tidak tinggal diam, ia pun mengajukan laporan resmi kepada Polda Sulsel pada 5 September 2024, mendesak aparat untuk melakukan investigasi terhadap proyek pembangunan yang dinilai merugikan keuangan negara. Dalam laporan tersebut, LHI menyampaikan bahwa proyek ini seharusnya menjadi bagian dari pemulihan ekonomi pasca-pandemi, tetapi kenyataannya pasar tersebut tidak memberikan manfaat yang diharapkan bagi pedagang maupun masyarakat.
"Proyek ini menggunakan dana besar, 23 miliar rupiah, yang seharusnya dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi, namun justru terkesan sia-sia," kata Mahmud dalam konferensi pers di Makassar, Senin (4/10/2024).




