Jakarta, 29 Januari 2025 – Sejak era pra-kemerdekaan, pedagang kaki lima (PKL) telah menjadi mutiara bangsa. Mereka bukan hanya bagian dari sistem logistik dan intelijen perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, tetapi juga tempat di mana ide dan gagasan besar para pendiri bangsa dirumuskan. Bahkan, saat krisis ekonomi 1997/1998, 2008, serta pandemi COVID-19, PKL menjadi penyelamat perekonomian nasional.
Namun, hingga kini, keberadaan PKL masih kerap dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan. Kasus penggusuran tidak manusiawi terhadap PKL di sepanjang Jalan Raya Puncak, Bogor, pada Agustus 2024 menjadi bukti nyata ketidakberpihakan terhadap mereka. Oleh karena itu, dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-32 Asosiasi PKL Indonesia, Ketua Umum Asosiasi PKL Indonesia, dr. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed, menegaskan pentingnya mengembalikan PKL sebagai mutiara bangsa dan menjadikannya sebagai pilar utama dalam menyongsong puncak bonus demografi 2030.
Jangan Lupakan Sejarah Peran PKL
“JAS MERAH – Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah,” kata Bung Karno. Sejarah membuktikan bahwa PKL memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa ini. Sebagai warga negara, mereka memiliki hak yang sama dengan konglomerat dan pengusaha besar, sebagaimana dijamin oleh Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu, usaha dan ekonomi PKL tidak boleh digusur, digerus, atau dijajah oleh pemilik modal besar, apalagi menjadi korban ekonomi digital,” tegas dr. Ali Mahsun.
Ia menambahkan bahwa dirinya bersama Asosiasi PKL Indonesia akan berjuang sekuat tenaga untuk melindungi jutaan PKL, warung kelontong, pedagang pasar tradisional, petani, nelayan, serta industri rumahan. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan pendekatan super accelerated learning by doing, Asosiasi PKL Indonesia berkomitmen untuk mendampingi ekonomi rakyat agar mampu maju dan unggul, sehingga menjadi kunci sukses Indonesia dalam menyongsong bonus demografi 2030.
Cetak Biru 100 Juta PKL-UMKM Unggul




