![]() |
Makassar,– Di balik gemerlap ajang Youth Coding Achievement (YCA) 2025, ratusan Ketua Ekstrakurikuler Pandu Digital dari SMA/SMK se-Sulawesi Selatan hadir dengan misi lebih besar dari sekadar menyimak karya digital. Mereka menjadi pionir gerakan literasi dan transformasi digital di sekolah, sebagai bagian dari inisiatif Collaborative Digital Class yang diinisiasi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.Senin 20 Juli 2025.
Kehadiran mereka bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan langkah nyata membangun digital leadership di tingkat sekolah.
“Ketua Pandu Digital ini bukan penonton. Mereka adalah penggerak. Mereka akan menjadi pionir literasi digital dan pemanfaatan teknologi di sekolah masing-masing,” ujar Anshar Syukur, Plt. Kabid GTK Disdik Sulsel sekaligus Ketua Umum Pandu Digital Indonesia.
Dalam kegiatan ini, para Ketua Pandu Digital tidak hanya mengikuti rangkaian acara utama, tetapi juga mendapat sesi khusus berupa workshop, observasi langsung proyek digital, serta ditugaskan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk pengembangan literasi digital di sekolah masing-masing.
“Inilah bedanya dengan peserta biasa. Mereka adalah digital leader di sekolah. Kita ingin mereka pulang dari sini membawa semangat, materi, dan strategi baru untuk memperkuat gerakan digital berbasis komunitas,” tambah Anshar.
Sebagai Ketua Umum Pandu Digital Indonesia, Anshar menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen membangun kepemimpinan siswa berbasis teknologi dan nilai kolaboratif.
“Kita ingin para Ketua Pandu Digital ini tidak hanya paham teknologi, tapi juga mampu menjadi fasilitator, mentor, dan penggerak perubahan di sekolah. Mereka adalah duta transformasi digital di akar rumput pendidikan,” tegasnya.
YCA 2025 menampilkan berbagai proyek digital, mulai dari aplikasi web dan desktop, game edukatif, Internet of Things, robotik, hingga Artificial Intelligence. Para Ketua Pandu Digital mendapat kesempatan berdialog langsung dengan para pembuat proyek, serta belajar dari praktisi industri dan komunitas teknologi nasional.
“Baru kali ini kami ikut event besar dan langsung diminta menyusun rencana untuk sekolah. Rasanya tertantang, tapi bangga karena dipercaya sebagai pemimpin digital,” ungkap Arif, Ketua Pandu Digital dari Kabupaten Soppeng.
Melalui pola pembinaan ini, Disdik Sulsel dan Pandu Digital Indonesia meyakini bahwa transformasi digital harus dibangun dari akar – dengan memberdayakan siswa sebagai agen utama perubahan.
“Inilah wajah baru pendidikan Sulsel. Siswa tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga memimpin perubahan melalui teknologi,” pungkas Anshar.

0 Komentar