MAKASSAR — Di sebuah ruang yang tak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang refleksi dan penguatan nilai, jajaran Satbrimob Polda Sulawesi Selatan mengikuti sebuah momen yang sarat makna.
Bukan sekadar menonton siaran televisi, melainkan menyerap arah baru institusi, memahami tantangan zaman, dan meneguhkan kembali komitmen pengabdian kepada masyarakat.
Bertempat di Aula Multimedia Satbrimob Polda Sulsel di Makassar, Komandan Satuan Brimob Polda Sulsel, KBP Muhammad Ridwan, memimpin kegiatan nonton bareng program Jembatan Merah Putih Presisi untuk Negeri yang disiarkan langsung oleh Tv One dengan mengusung semangat besar: “POLRI PRESISI”.
Kegiatan yang berlangsung pukul 10.30 WITA ini bukan hanya agenda seremonial.
Ia menjadi bagian dari proses pembinaan internal, sebuah upaya menyatukan cara pandang dan memperkuat pemahaman seluruh personel terhadap arah transformasi Polri di era modern.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kabag Ops Satbrimob Polda Sulsel AKBP Nur Ichsan serta para Pejabat Utama (PJU) Satbrimob.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa penguatan nilai dan wawasan tidak hanya ditujukan kepada anggota di lapangan, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama dalam struktur kepemimpinan.
Program yang ditayangkan menghadirkan sejumlah tokoh nasional dengan perspektif yang beragam namun saling melengkapi.
Komjen Pol. Ramdani Hidayat, S.H. (Komandan Korps Brimob Polri), Gufron Mabruri, S. H. I (Komisioner Kompolnas, dan Dr. Devie Rahmawati, M. Hum. (Pengamat Sosial), tampil sebagai narasumber utama, mengupas peran Polri dalam memperkuat persatuan bangsa melalui pendekatan Presisi.
Dalam pemaparannya, Komjen Pol Ramdani Hidayat menegaskan bahwa konsep Polri Presisi bukan sekadar jargon institusi, melainkan arah transformasi yang konkret.
“Polri Presisi hadir sebagai komitmen untuk meningkatkan kinerja yang prediktif, responsibilitas, serta transparansi berkeadilan guna menjawab harapan masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tugas kepolisian hari ini tidak lagi cukup hanya dengan menjaga keamanan. Lebih dari itu, Polri dituntut mampu membaca situasi, merespons secara cepat, dan menghadirkan keadilan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sementara itu, Komisioner Kompolnas Gufron Mabruri menyoroti satu hal yang menjadi fondasi utama dalam hubungan antara institusi dan masyarakat: kepercayaan publik.
“Kepercayaan publik menjadi kunci utama, dan itu dibangun melalui konsistensi pelayanan serta profesionalisme anggota Polri di lapangan,” sebutnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kepercayaan tidak lahir dari kata-kata, tetapi dari tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten. Setiap interaksi antara anggota Polri dan masyarakat menjadi bagian dari proses membangun atau bahkan mengikis kepercayaan tersebut.




