Jakarta,- Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 113 USD/barel dampak perang US-Israel Vs Iran sejak 28 Februari 2026 yang telah gugurkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatulloh Ali Khamenie. Bukan saja itu, penutupan Selat Hormuz Iran juga akibatkan lonjakan harga gas Lpg dan pangan dunia. Bahkan ancaman resesi dan krisis ekonomi dunia ada di depan mata. Bagaimana dengan Indonesia?, tegas Ketua Umum APKLI-P, dr Ali Mahsun ATMO, M. Biomed , Jakarta, Selasa Malam, 10/3/2026.
Pembantu Rektor Undar Jombang Jatim 2010-2012 ini menambahkan, dengan pagu harga minyak mentah APBN 2026 sebesar 70 USD/barrel yang saat ini melonjak 113 USD/barel menambah beban APBN 2026 sebesar 292,4 trilyun (43x6,8 trilyun). Bukan hanya itu, harga gas alam dunia naik 20-30% dimana kebutuhan Indonesia per tahun adalah 8,2 juta metrik ton, dimana sebanyak 80% atau 6,5 juta metrik ton adalah dari impor. Yaitu sebesar 50% atau 3,25 juta metrik ton dari Timur Tengah lewati Selat Hormuz, dan sisanya dari Amerika Serikat.. Singkatnya mitigasi Indonesia terhadap dampak perang US-Israel Vs Iran harus memprioritaskan, pertama, ketersediaan gas Lpg 3kg subsidi untuk puluhan juta rakyat kecil, juga untuk puluhan juta PKL usaha mikro dan kecil. Kedua, ketersediaan BBM subsidi khususnya untuk 8 juta ojek online diseluruh tanah air. Ketiga, maksimalkan skema kredit usaha rakyat (KUR) untuk percepatan (hal emergensi) transisi motor BBM ke motor listrik bagi 8 juta ojek online. Atau mitigasi dampak perang US-Israel Vs Iran harus perioritaskan kebutuhan isi perut rakyat kecil, serta perputaran roda ekonomi PKL, usaha mikro dan kecil, dan ojek online. Artinya sektor terhilir dalam tata kelola ekonomi nasional harus segera disemalatkan, kenapa?




