![]() |
Soppeng - Kabar mengejutkan mengguncang dunia pendidikan di Bumi Latemmamala. SDN 7 Salotungo, sekolah yang selama ini dikenal sarat prestasi dan aktif mencetak siswa berdaya saing, kini menjadi sorotan publik setelah kepala sekolahnya dimutasi secara mendadak.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Bupati Soppeng Nomor 237/V/2026 tertanggal 12 Mei 2026 yang ditandatangani oleh Suwardi Haseng. Namun, keputusan itu memunculkan berbagai pertanyaan dan dinilai sejumlah pihak sarat nuansa politik praktis.
Kepala sekolah, Abdul Asis, yang dikenal memiliki dedikasi tinggi dan menjadi penggerak utama berbagai capaian sekolah, dipindahtugaskan ke UPTD SPF SDN 121 Salaonro sebagai Guru Ahli Muda.
Mutasi tersebut sontak memicu reaksi dari masyarakat, khususnya para orang tua siswa. Banyak pihak mempertanyakan apakah langkah itu benar-benar bagian dari penyegaran organisasi atau justru bentuk penyingkiran terhadap figur yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan tertentu.
Salah seorang orang tua siswa, Sahar, menilai keputusan tersebut sebagai kemunduran bagi dunia pendidikan di Kabupaten Soppeng. Menurutnya, Abdul Asis merupakan sosok yang telah membawa nama SDN 7 Salotungo dikenal luas melalui berbagai prestasi akademik maupun nonakademik.
“Sangat disayangkan. Sosok yang telah memberikan bukti nyata lewat prestasi justru dipindahkan. Seharusnya dedikasi seperti ini mendapat dukungan dan penghargaan, bukan keputusan mendadak yang menimbulkan tanda tanya,” ujar Sahar.
Tak hanya soal prestasi, aspek kemanusiaan juga menjadi sorotan. Sahar menyebut kebijakan tersebut berpotensi memberi beban baru bagi Abdul Asis karena harus menempuh jarak yang cukup jauh menuju tempat tugas barunya.
“Jarak yang jauh bukan sekadar angka di atas peta, tetapi hambatan nyata dalam menjaga produktivitas dan stabilitas kehidupan pribadi. Kebijakan birokrasi seharusnya tetap mempertimbangkan sisi kemanusiaan,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari Pemerintah Kabupaten Soppeng terkait alasan utama mutasi tersebut. Sementara itu, polemik di tengah masyarakat terus berkembang dan memunculkan harapan agar dunia pendidikan tetap dijauhkan dari kepentingan politik praktis.(**)

0 Komentar